Upacara Ngaturin di Desa Adat Satra adalah salah satu tradisi tertua yang masih bertahan hingga kini. Tradisi ini diyakini sudah ada sejak abad ke‑12, sejak berdirinya Desa Satra yang menjadi cikal bakal wilayah desa adat. Di Bali, setiap desa adat memang memiliki tradisi yang berbeda-beda, dan Satra termasuk desa tua yang memiliki kekayaan adat unik. Salah satunya adalah upacara Ngaturin, sebuah ritual yang bermakna ngaturang atau memberi baik dalam konteks sekala (dunia nyata) maupun niskala (dunia spiritual). Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan.
Dalam pelaksanaannya, Ngaturin menggunakan sarana upakara yang cukup besar. Banten disiapkan dengan teliti, lengkap dengan wewalungan inti berupa seekor sapi jantan. Sapi dipilih bukan tanpa alasan dalam tradisi Tanah Embut, sapi dianggap sebagai hewan suci yang layak dipersembahkan dalam upacara besar. Proses persiapan berlangsung selama empat hari penuh, mulai dari mejejaitan, ngolah wewalungan, hingga menata seluruh sarana upacara. Semua dilakukan secara gotong royong oleh krama desa, sehingga suasana persiapannya selalu ramai dan penuh kebersamaan.
Setelah semua sarana upakara siap, barulah upacara ngaturin dimulai, warga berkumpul di pura dengan pakaian adat lengkap, membawa banten, sapi, dan alat-alat lainnya. Disana warga memotong sapi yang akan dihaturkan, para lelaki membuat makanan untuk persembahan dan makanan untuk semuanya, sedangkan para perempuan membuat beberapa sarana upacara yang akan langsung digunakan untuk persembahyangan. Suasananya sakral dan penuh rasa hormat, doa-doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa yang beristana di Pura Bukit Sinunggal. Di sinilah inti makna Ngaturin terasa, manusia mengucap syukur sekaligus memohon keselamatan, kelancaran hidup, dan terutama keturunan bagi pasangan suami istri yang melaksanakan kaul.
Puncak upacara ini diyakini sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan atas segala berkah yang telah diberikan. Tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk hewan dan tumbuhan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Upacara dipimpin oleh penglingsir desa adat dan para pemangku, sehingga nuansa spiritualnya sangat kuat. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan, seolah seluruh desa menyatu dalam satu doa yang sama.
Selesai persembahyangan, acara dilanjutkan dengan megibung. Tradisi makan bersama ini selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Selain karena hidangannya yang sederhana, megibung juga menjadi ajang mempererat hubungan antarwarga. Duduk melingkar, makan dari daun, sambil berbagi cerita, suasana seperti ini membuat upacara terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Setelah megibung selesai, barulah puncak upacara Ngaturin dilaksanakan.
Menariknya, upacara Ngaturin ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Yang wajib melaksanakannya adalah pasangan suami istri, terutama mereka yang sedang memohon keturunan. Namun di Desa Satra, seluruh krama lanang, istri, hingga teruna atau bujang juga ikut ngayah. Ada aturan khusus yang harus dipatuhi, perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan ikut dalam proses upacara, sedangkan laki-laki bebas terlibat kapan saja, aturan ini dijaga ketat sebagai bentuk kesucian upacara.
Selain di Pura Pengaturan, upacara ini biasanya juga dihaturkan di Pura Tegal Suci. Setiap pura memiliki fungsi dan energi spiritual yang berbeda, sehingga pelaksanaannya pun mengikuti aturan adat yang sudah diwariskan turun-temurun. Meski tempatnya berbeda, makna upacaranya tetap sama, memberi, bersyukur, dan memohon restu.
Ngaturin dilaksanakan dua kali dalam setahun, tepatnya pada sasih kelima dan sasih kepitu. Dua sasih ini dianggap sebagai waktu yang baik secara niskala untuk menghaturkan persembahan. Karena hanya dilakukan dua kali setahun, persiapannya pun lebih serius dan melibatkan lebih banyak warga. Tidak heran jika suasana desa terasa lebih hidup menjelang upacara.
Yang membuat tradisi ini semakin menarik adalah keyakinan turun-temurun yang menyertainya. Banyak warga percaya bahwa Ngaturin adalah bentuk bayar kaul kepada sesuhunan di Pura Bukit Sinunggal. Jika kaul tidak dipenuhi, berbagai sumber mengatakan bahwa seseorang bisa mengalami gangguan niskala, seperti dihantui atau mengalami mimpi buruk. Keyakinan ini membuat masyarakat semakin taat melaksanakan Ngaturin, bukan karena takut, tetapi karena menghormati janji spiritual yang pernah diucapkan.
Bagi masyarakat Desa Satra, Ngaturin bukan sekadar ritual. Ini adalah identitas, warisan leluhur, dan pengingat bahwa hidup harus dijalani dengan rasa syukur. Tradisi ini mengajarkan bahwa memberi tidak membuat kita kekurangan, justru membuka jalan untuk menerima lebih banyak berkah. Di tengah modernisasi, Ngaturin tetap bertahan karena masyarakat percaya bahwa selama tradisi dijaga, desa akan tetap harmonis.
Melihat bagaimana upacara ini dijalankan, kita bisa merasakan betapa kuatnya hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam kehidupan masyarakat Bali. Ngaturin menjadi bukti bahwa tradisi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga keseimbangan hidup di masa kini. Selama masih ada yang percaya dan melaksanakan, Ngaturin akan terus hidup sebagai bagian dari jati diri Desa Adat Satra.